Impian Prof. Ojat Darojat, Semua Lulusan SMA Sederajat Bisa Kuliah

Share

Mahasiswa UT – Rektor Universitas Terbuka (UT) Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D. bertekad mensukseskan program pemerintah dalam meningkatkan program kuliah bagi seluruh anak bangsa. UT saat ini sedang menawaran program-program studi sesuai kebutuhan masyarakat dengan biaya yang sangat terjangkau.

“Kuliah untuk semua kita bisa, karena konteks dalam jarak jauh bukan mahasiswa datang kekampus tapi kampus akan datang kerumah rumah mereka, kepintu pintu mereka. Mereka belajar dirumah saja membangun ekonomi bersama keluarganya, biar pendidikan kami yang atur, kami yang bayarin, kita yang layanin,” ujar Prof Ojar Darojat.

Di tengah pandemi banyak lulusan SMA sederajat yang tidak bisa kuliah, Ojat mengatakan, UT memperkokoh kewibawaan akademik dalam digital ekosistem. Prof. Ojat menyatakan bahwa daya jangkau UT yang luas mampu meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi.

Prof. Ojat mengatakan, agar mahasiswa lulusan SLTA itu punya kesempatan melanjutkan ke UT. Mereka itu banyak yang tidak melanjutkan karena dua hal yakni kendala ekonomi dan kendala geografi.

UT juga melakukan layanan belajar ynag fleksibel, luas dan lulusan SLTA itu bisa masuk UT dan belajar dimana pun dan kapan pun.

Prof. Ojat memiliki impian kedepan agar angka partisipasi kasar Perguruan Tinggi naik dari 35% menjadi 75%. Menurutnya para generasi muda itu harus diberikan kesempatan kuliah secara gratis.

 Impian Prof. Ojat Darojat, Semua Lulusan SMA Sederajat Bisa Kuliah

“Dan menurut saya bisa melalui UT, itu sangat bisa, sangat memungkinkan karena melalui kuliah jarak jauh pemerintah bisa membiayai biaya operasional UT dengan uang yan tidak terlalu besar,” katanya.

UT saat ini rata-rata mengeluarkan biaya operasional hanya sekitar Rp 1 sampai 1,5 triliun per tahun. Lalu UT menampung jumlah mahasiswa hingga ratusan ribu orang.

“Berapa pun banyaknya tapi kita harus jaga popularitasnya itu memungkinkan jadi uang yang diterima UT dari mahasiswa uang kuliah tunggal, itu kan sebenarnya tidak terlalu besar juga itu kan 35.000 atau 50.000 per SKS, kecil itu kan? Nah yang itu diganti sekarang pemerintah bayar atau lembaga lembaga lainnya hadir kan banyak itu seperti manufaktur, CSR-nya sebagian dikelola oleh UT sehinga ini nantinya tanpa harus meminta UKT dari mahasiswa,” katanya.

Prof Ojat mengatakan, yang paling memungkinkan wajib kuliah dan gratis diharapkan mampu meningkatkan sumber daya manusia Indonesia. Masuk ke UT tak perlu khwatir kualitas pendidikannya tetap terjaga.

Saat ini, UT memiliki 39 kantor cabang dan 1 diluar negeri. Dengan banyak cabang yang akan menjadi tangan tangan UT masuk ke pelosok tanah air, kepulau-pulau terpencil hingga daerah-daerah pegunungan.

“Hanya UT yang bisa melaksanakan kuliah seperti itu karena kuliah jarak jauh tidak mungkin dilakukan dengan konvensional,” tuturnya.

Di UT juga tidak istilah drop out. Sementara di kampus konvesional aturannya lebih dari 7 tahun langsung drop out.

Supaya UT didaerah daerah lebih optimal, lebih maksimal memberikan pelayanan tingkat tinggi ke masyarakat. UT dengan pengalamannya punya kemampuan yang sangat besar untuk mensukseskan program pemerintah semua bisa kuliah.

Terkait dengan dukungan teknologi, diakui Prof Ojat memang masih ada kesulitan untuk mahasiswa UT yang berdomisili daerah-daerah terpencil. Dimana jaringan ke internet sangat susah bagi mereka.

“Jadi dalam hal ini pemerintah harus hadir mendirikan BTS disana atau kalau tidak ada BTS ekstention didaerah-daerah terpencil, supaya nanti mahasiswa-mahasiwa UT di daerah terpencil itu bisa akses ke jaringan internet. Itu sangat penting, masalah jaringan infrastruktur tapi tidak hanya jaringan BTS saja tapi harus ada listriknya, itu kan penting kalau tidak ada listriknya susah juga, itu penting pemerintah harus hadir,” katanya.

Bila perusahaan swasta yang hadir menyediakan akses internet di daerah tentunya bertujuan untuk profit. Namun bila perusahaan BUMN milik pemerintah harus hadir disana supaya mahasiswa kita yang berdomisili di daerah terpencil punya akses ke jaringan untuk kuliah secara online.

“Selama ini kita melayani mahasiswa (di daerah terpencil) itu dengan bahan ajar cetak yang kita kirim. Kadang-kadang diselingi dengan kuliah tatap muka sangat terbatas,” ucapnya.

Dia berharap program kuliah berkualitas dan gratis bagi masyarakat. Jika UT sanggup memberikan mahasiswa kuliah gratis kira-kira sumber dana nya dari mana?

“UT memberikan mahasiswa gratis dengan cara tidak membebani mahasiswa dengan biaya UKT tetapi pemerintah, UT butuh biaya operasional 1 tahun berapa? Biayanya katakanlah 1 trilyun atau 1,5 trilyun, nah untuk biaya operasional ditanggung oleh pemerintah, mahasiswa S1-nya digratiskan gitu,” tandasnya.

Sumber: Impian Prof. Ojat Darojat, Semua Lulusan SMA Sederajat Bisa Kuliah
Link: https://monitorindonesia.com/headline/impian-prof-ojat-darojat-semua-lulusan-sma-sederajat-bisa-kuliah/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *