Publikasi Ilmiah di Indonesia

Mahasiswa UT, Publikasi Ilmiah di Indonesia – Catatan diawal, tulisan ini merukan beberapa tulisan yang telah terbit sebulumnya membahasan persoalan, kesulitan dan solusi terhadap permasalahan seutar publikasi tulisan ilmiah di negara kita.

Balada Dosen dan Publikasi Ilmiah

Accepted. Ya, itu adalah kata yang sangat sakral dan ditunggu-tunggu bagi siapapun yang sedang submit sebuah jurnal. Kita bisa berjingkat kegirangan saat ada surel masuk bertuliskan kata sakti tersebut. Tidak bisa dipungkiri bahwa pembahasan terkait dunia publikasi jurnal ini tidak ada habisnya dan masih dianggap “seksi” bagi siapapun yang terjun di kancah “persilatan” akademisi, di antaranya motivasinya faktor kewajiban dalam mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, faktor kebanggaan karena mendapat “legitimasi” sebagai seorang ilmuwan, juga mungkin terkait dalam hal mengerek kenaikan jabatan yang berimbas pada perbaikan ekonomi.

Di mata sang idealis, tentu semua itu juga berkontribusi dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia. Sayangnya, semangat yang begitu heroik tersebut sering tersandung dengan mahalnya biaya publikasi jurnal. Tidak heran, masih sangat banyak kita jumpai seorang dosen yang sudah mengabdi belasan bahkan puluhan tahun, tapi jumlah publikasinya bisa dihitung jari, bahkan banyak juga yang jalan di tempat. Jadi sampai lebaran kuda pun jangan harap bisa menyandang gelar profesor tanpa adanya publikasi jurnal ini.

Dalam aturan Pedoman Operasional/Penilaian Angka Kredit (PO-PAK) Kemendikbud, sangat jelas porsi kewajiban penelitian ini sangat besar yakni antara 25%-45% tergantung jabatan fungsionalnya. Sedangkan kita tahu, salah satu produk penting dari sebuah penelitian adalah publikasi jurnal.

Jurnal sangat banyak macamnya, dari mulai jurnal kelas “gurem” sampai dengan jurnal kelas “tier tinggi” alias Jurnal Internasional Bereputasi. Rata-rata jurnal ini bersandar pada lembaga pengindeks Scopus dan Web of Science, sedangkan untuk jurnal lokal berkiblat pada lembaga Sinta.

Harus diakui, produktivitas karya ilmiah para ilmuwan di negara kita masih tergolong rendah. Menilik dari website lembaga pemeringkat terkemuka yakni Scimagojr, Indonesia cuma berada di peringkat ke-45 di dunia, bahkan di kancah Asia Tenggara pun kita masih kalah dari Thailand, Singapura, dan Malaysia. Jadi masih jauh panggang dari api, padahal kita memiliki potensi di atas mereka.

Kenapa fenomena ini bisa terjadi? Salah satu yang paling besar pengaruhnya adalah karena mahalnya biaya publikasi ini. Coba kita telisik lebih dalam kenapa publikasi Jurnal Ilmiah Bereputasi ini dikatakan mahal.

Harga dalam sebuah jurnal dikenal dengan istilah Article Publishing Charge (APC). Sebagai contoh, harga APC (tier Q1) dari Jurnal Internasional Bereputasi:
Nurse Education Today USD 4.090 = Rp 58.7 juta
International Journal of Nursing Studies USD 4.470 = Rp 64.1 juta
Journal of the American Medical Directors Association USD 4.370 = Rp 62,7 juta

Dan, masih banyak jurnal lain, yang mayoritas berharga di angka puluhan juta rupiah. Bagi seorang dosen yang bekerja di luar negeri yang digaji dengan dolar, mungkin APC ini tidak akan jadi sebuah masalah, dan tinggal “sat set sat set”. Tapi bagi seorang dosen yang tinggal di Indonesia dengan gaji rupiah, nominal tersebut tentu sangatlah fantastis. Bayangkan harga dari sebuah jurnal saja, jika dikonversikan terhadap gaji seseorang yang berbasis UMR, itu sudah setara dengan gaji 2 tahun penuh, belum lagi kalau terkena pajak penghasilan.

Apakah ada jurnal yang gratis? Jawabannya ada. Memang betul ada yang gratis, Tapi, perlu diperhatikan Jurnal Internasional Bereputasi yang gratis sangatlah sedikit; anak muda mengenalnya dengan istilah “barang ghaib”. Jadi begini, mayoritas Jurnal Internasional Bereputasi menerapkan open access; semua orang bisa download dan membaca paper jurnal kita dengan cuma-cuma alias gratis.

Kalau begitu siapa yang menanggung beban biaya operasional dari si penerbit jurnal? Jawabannya, Ya jelas kita yang submit ke jurnal tersebut. Jadi itulah alasan kenapa mayoritas jurnal berbayar. Banyak yang beralasan semua itu karena ada kartel bisnis di dalamnya. Begini saja; coba dipikirkan: sebuah penerbit jurnal mengakomodasi ribuan paper yang di submit oleh para peneliti di seluruh dunia. Jelas ini akan membutuhkan cost operasional yang tidaklah murah bukan?

Jika berbicara soal jurnal gratis, saya analogikan sebagai “sebuah pintu”; ukuran pintu ini sangatlah kecil dan jumlahnya sedikit, sedangkan yang mau masuk saja butuh antrean panjang dan berjibun. Otomatis kita menjadi sangat sulit bergerak dan akan terjadi “baku hantam” dalam prosesnya. Belum lagi masalah ketidaksesuaian topik penelitian kita dengan jurnal tersebut.

Apakah pemerintah perlu untuk turun tangan dalam pembiayaan APC ini? Jelas sangat perlu, karena kalau hanya mengandalkan kantong pribadi seorang dosen, maka hal itu adalah mustahil. Dari pihak kampus memang biasanya menyediakan bantuan publikasi, tapi ini sifatnya pun terbatas dan harus berkompetisi terlebih dahulu dengan rekan sejawat. Dan, perlu diingat juga, masih banyak juga kampus kampus kecil lain yang mengalami keterbatasan pendanaan ini.

Jurnal-jurnal bereputasi memang mahal, tapi mahalnya sebanding dengan tingkat reputasi yang dijaganya. Siapapun para peneliti, walaupun katakanlah punya dana melimpah, tapi jika kualitas publikasinya tidak berkualitas, ya tidak akan pernah bisa masuk ke jurnal jurnal bereputasi tersebut.

Jurnal bereputasi ini sangat kredibel dan ketat dalam menerapkan peer-review, bahkan mayoritas mereka menerapkan double-blind review. Jadi tidak ada celah lagi. Kecuali submit-nya ke jurnal abal-abal atau bahkan terperosok ke jurnal “predator”. Itu namanya zonk, jurnal fraud –uang hilang dan jurnal kita tidak ada nilainya.

Kita semua tahu bahwa Indonesia butuh pemerataan sumber daya manusia yang berkualitas. Sokongan penuh dari pemerintah akan menambah daya dorong dalam mengakselerasi produktivitas karya-karya ilmiah ilmuwan Indonesia.

 

Dosen dalam Balada Publikasi Ilmiah?

Membaca kolom detikcom tertanggal 8 April 2022 berjudul Balada Dosen dan Publikasi Ilmiah membangkitkan niat saya untuk menuliskan artikel kolom terkait bahasan tersebut. Bukan sebagai sanggahan, tapi melengkapi beberapa informasi yang belum disampaikan penulis, sehingga tampak seakan dosen benar-benar berada dalam ‘balada’. Padahal publikasi merupakan cara cerdas untuk meningkatkan kualitas dan rekognisi, baik untuk peneliti, universitas maupun bangsa kita ke ranah global.

Baca juga:   Perbedaan Universitas, Institut, Politeknik, Sekolah Tinggi & Akademi

Tepat sekali, bahwa publikasi ilmiah adalah keniscayaan bagi seorang insan cendekia di perguruan tinggi karena terdapat tiga dharma yang digariskan pemerintah untuk dilaksanakan atau biasa disebut dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Dharma kedua, Penelitian merupakan salah satu tugas utama perguruan tinggi dalam mengokohkan fungsinya dalam kehidupan berbangsa, karena amanah menjaga dan mengembangkan ilmu, mengembangkan inovasi dan teknologi, memupuk kecerdasan inovatif generasi penerus bangsa memanglah layak jika dibebankan pada institusi pendidikan tertinggi.

Karena itulah, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi mengalokasikan dana penelitian kompetitif nasional dalam berbagai skema. Selain itu beragam macam jenis pendanaan penelitian juga ditawarkan oleh berbagai institusi seperti LPDP, Pertamina dan beberapa BUMN lain, pendanaan mandiri dari Universitas, serta beberapa kesempatan pendanaan dari luar negeri seperti JSPS, USAID, Erasmus dan lain sebagainya.

Konsekuensi logis dari pelaksanaan penelitian adalah mempertanggungjawabkan hasil penelitian baik kepada board of funding body, ataupun kepada masyarakat, dalam hal ini kalangan akademis yang berada dalam ranah penelitian yang sama. Di sinilah letaknya fungsi publikasi.

Penelitian dengan state of the art tinggi, latar belakang penelitian yang jelas, desain eksperimen yang matang dan mengacu pada kaidah ilmiah, validitas data yang tinggi, pembahasan yang komprehensif dan pengambilan kesimpulan yang secara tepat menjawab tujuan penelitian, akan mendapatkan potensi lebih besar untuk mendapatkan status ‘accepted’ kemudian ‘published’ pada terbitan berkala ilmiah dengan reputasi tinggi atau biasa disebut top tier.

Jika menganut pengelompokan yang dilakukan Scimago Institution Rankings dalam portal yang bernama Scimago Journal & Country Rank (SJR) beralamat di laman www.scimagojr.com, maka jurnal top tier tersebut menempati posisi Quartil 1 (Q1) dan Quartil 2(Q2).

SJR dibuat oleh SCImago, suatu grup riset dari the Consejo Superior de Investigaciones Científicas (CSIC), University of Granada, Madrid, Spanyol, yang mendedikasikan penelitian di grupnya untuk memprediksikan the shape of science, Scimago Institution Ranking (SIR), dan Atlas of Science. Sehingga apa yang telah dilakukan grup ini dan secara konsisten melakukan perbaruan data, merupakan upaya untuk membantu peneliti mengetahui struktur sains yang sedang berkembang dalam kurun waktu tertentu.

Selain itu, SCImago membantu institusi pendidikan dan riset untuk mengetahui posisi terkininya dalam kancah sains dan teknologi secara global. Data yang disajikan bisa dengan mudah diambil dan bisa dijadikan evaluasi diri setiap universitas untuk menyusun strategi ke depan. Satu hal yang tidak bisa kita lewatkan, penting bagi institusi dan peneliti untuk tercatat turut membangun the shape of science dan menempatkan satu ‘titik’ dalam atlas of science.

Kita memang tidak dapat menafikan kenyataan bahwa akademisi bangsa ini masih merupakan objek atau client dalam platform-platform academic publication. Bahkan, ada yang menyebutkan akademisi Indonesia terjebak masuk dalam gurita konglomerasi, karena scimagojr menyandarkan datanya pada Scopus. Sementara Scopus database dirilis oleh Elsevier, publisher raksasa yang menerbitkan ribuan jurnal yang diindeks oleh Scopus.

Hebatnya lagi, platform perangkingan universitas yang setiap tahun dirilis dengan tajuk QS World University Rankings adalah besutan Elsevier pula, dan QS mengambil data-data dari Scopus untuk perhitungan academic citation dengan porsi 20% dari total score yang dirilis. Lengkap sudah.

Eloknya lagi Scopus mendapatkan keistimewaan tempat di negeri ini, bersamaan dengan Web of Science. Hanya saja WoS kurang popular karena keterbatasan aksesnya di Indonesia. Sehingga, dosen dan peneliti lebih memilih jurnal-jurnal yang terindeks Scopus, supaya mudah melacak dan dilacak oleh reviewer kenaikan pangkat.

Namun, bagaimanapun peran pengindeks bereputasi seperti Scopus atau Web of Science sangatlah penting untuk menjaga kualitas penerbitan sekaligus kualitas penelitian yang dilakukan peneliti di seluruh dunia dalam berbagai area riset. Karena meski Scopus juga bagian pragmatis dari bisnis besar Elsevier, jika tanpa ada pengindeks bereputasi, ‘mungkin’ akademisi juga akan bersikap pragmatis dalam penerbitan.

Bukan cinta atas sains dan teknologi sebuah publikasi dilakukan, namun atas dasar keperluan administrasi kepangkatan. Hal ini yang memicu naiknya demand publikasi secara mudah dan cepat, dan peluang tersebut ditangkap oleh predatory journal dan predatory publisher untuk berbisnis di ranah publikasi ilmiah.

Penerbit-penerbit besar semacam Elsevier, Thomson Reuters, Taylor & Francis, John Willey & Sons, Wiley Blackwell, Royal Society of Chemistry dan lain-lain juga mempunyai financial interest, karena kebutuhan finansial untuk membiaya aktivitas penerbitan mereka. Sehingga penerbit bereputasi juga membuka model open access. Namun, tipe open access pada jurnal-jurnal bereputasi merupakan pilihan. Penulis bisa memilih non open access; sama sekali tidak ada biaya publikasi.

Tipe open access berarti beban penerbitan dikenakan kepada penulis, sehingga artikelnya yang telah terbit dapat diakses dan diunduh secara gratis oleh siapa saja di seluruh dunia. Hal ini menguntungkan penulis, karena indeks sitasinya (H indeks) akan meningkat dengan cepat. Suatu prestise dan pengakuan kapabilitas seorang peneliti.

Sedangkan pada model non-open access, penulis tidak dikenai biaya penerbitan, namun artikel hanya bisa diakses dan diunduh secara berbayar. Dengan kata lain, pembaca yang membutuhkan artikel tersebut yang membiayai penerbitan. Laman www.scimagojr.com menayangkan sejumlah 32.958 jurnal dari semua area keilmuan, sementara dari jumlah tersebut penerbitan dengan mode open access only adalah 7077, berarti hanya 22 % saja. Sisanya merupakan jurnal yang memberikan pilihan open atau non-open access. Artinya masih ada sekitar 72 % jurnal yang bisa dipilih untuk penerbitan artikel ilmiah dosen secara gratis asalkan tidak memilih opsi open access.

Apabila pencarian dipersempit misalnya pada jurnal kesehatan bidang Health Professions, maka didapatkan 165 jurnal menggunakan mode open access only dari total 595 jurnal, atau sekitar 28 %. Sisanya, 72% nya, menawarkan opsi open dan non-open access.

Jika ada opsi, maka tidak perlu lagi sangsi untuk melakukan publikasi. Karena keberanian dosen mempublikasikan hasil penelitiannya berarti satu langkah berani untuk bersedia dikaji oleh akademisi lain dengan kompetensi sama, sehingga dosen atau peneliti mengetahui dan dapat mengembangkan kapasitasnya selaras dengan standar keilmuan yang dipercayai komunitasnya.

Baca juga:   5 Universitas Islam Terbaik di Indonesia 2022

 

Menyiasati Publikasi Ilmiah

Rendahnya publikasi ilmiah para ilmuwan dan dosen di Indonesia yang terbentur pada biaya publikasi, disoroti oleh Yayu Nidaul Fithriyyah pada 8 April 2022. Dari kacamata saya, hal ini tidak sepenuhnya benar. Cukup banyak ilmuwan dan dosen Indonesia mampu menerbitkan publikasi ilmiahnya di jurnal bereputasi tanpa ongkos sepeser pun, saya termasuk di antaranya. Sampai saat ini saya belum pernah mengeluarkan ongkos untuk publikasi bereputasi, bahkan yang terletak di Q (kuartil 1; kuartil/kualitas tertinggi) sekalipun. Maksimal saya mengeluarkan biaya untuk memeriksa atau memoles Bahasa Inggris, itu pun tidak pada semua artikel.

Dari sebuah negara yang awalnya sangat ketinggalan dalam kuantitas publikasi ilmiah, kita cukup berbangga bahwa dalam 5-6 tahun terakhir telah terjadi peningkatan publikasi internasional sebanyak 600%, seperti dikemukakan Plt. Dirjen Diktiristek Kemendikbudristek pada Desember 2021. Semua ini tidak lepas dari dukungan pendanaan yang digelontorkan kementerian terkait. Tentu, tidak khusus berupa dana untuk membayar publikasi ilmiah, namun lebih pada hibah dana riset dengan tuntutan luaran berupa publikasi ilmiah internasional.

Melalui dana yang memadai, suatu riset dapat dijalankan dengan metodologi yang valid, sehingga lebih mudah accepted saat dikirimkan ke jurnal internasional bereputasi. Tetapi, bukankah accepted pun harus membayar mahal untuk bisa terbit? Dana dari mana untuk membayar puluhan juta seperti yang diminta penerbit? Mari kita kupas satu per satu.
Pendanaan yang Memadai

Untuk menghasilkan publikasi ilmiah, ilmuwan perlu meneliti, sekalipun risetnya menggunakan metode studi pustaka. Penelitian atau riset yang berencana memiliki luaran publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi idealnya dilaksanakan dengan pendanaan yang memadai. Pendanaan kecil bisa menyebabkan kurangnya jumlah sampel, rendahnya kualitas sampel, sampai pelaksanaan uji di laboratorium non-standar dengan metode uji non-standar pula.

Kecilnya dana riset yang saya dapatkan pada awal saya belajar meneliti, menyebabkan saya melakukan uji seadanya, sehingga semua artikel yang dikirimkan ke jurnal mendapat jawaban rejected. Kadang penulis cukup beruntung ketika editor menyebutkan alasan penolakan artikel, meskipun, lebih jamak email penolakan dikirimkan tanpa alasan. Untungnya, dari beberapa penolakan, editor menjelaskan alasannya, yang umumnya dikarenakan metode riset yang saya jalankan tidak valid.

Ilmuwan seyogianya meneliti menggunakan metode yang telah dibakukan, entah untuk riset kuantitatif maupun kualitatif, dengan merujuk pada metode-metode yang dipublikasikan sebelumnya. Bahkan untuk riset yang ditujukan mencari metode baru atau riset tandingan pun tetap perlu dijalankan menggunakan metode baku.

Pendanaan riset memadai akan memungkinkan ilmuwan menggunakan sampel dalam jumlah dan kualitas yang sesuai kebutuhan. Juga, ketika harus melakukan pengujian, seyogianya di laboratorium terstandar dengan metode terstandar pula, entah ISO (International Organization for Standardization), ASTM (American Society for Testing and Materials), atau lainnya. Semua kegiatan sesuai standar memerlukan biaya besar dan waktu panjang, seperti ketika harus antre uji laboratorium.

Bagaimana ilmuwan bisa memperoleh dana riset memadai? Pemerintah, terutama melalui Kemdikbudristek, menyediakan dana besar untuk dikompetisikan. Proposal yang disusun dengan metodologi valid, umumnya akan memperoleh hibah pendanaan tersebut. Pendanaan ini bisa meliputi keperluan publikasi ilmiah pula, namun tentunya bukan yang berbayar puluhan juta. Dana publikasi berupa pemolesan bahasa atau biaya submission (bukan Article Publishing Charge/APC) bisa masuk dalam dana riset, karena beberapa jurnal memungut biaya submission sekitar USD 100 untuk pengelolaan awal.

Permasalahannya, bagaimana suatu dana riset meminta luaran publikasi ilmiah di jurnal bereputasi, namun tidak menyediakan dana puluhan juta untuk APC? Ilmuwan dimungkinkan memilih jurnal bereputasi yang tidak memungut APC. Masih ada sangat banyak jurnal bereputasi yang bebas APC. Hal ini bisa diperiksa di laman Elsevier, Taylor Francis, atau Sage, tiga penerbit jurnal bereputasi terbesar di dunia.

Bebas Ongkos

Tiga jurnal yang disebutkan Yayu yang membutuhkan APC fantastis sampai Rp 65 jutaan (Nurse Education Today, International Journal of Nursing Studies, dan Journal of the American Medical Directors Association) semunya memberikan tawaran untuk bebas ongkos. APC adalah sebuah pilihan jika penulis ingin publikasi ilmiahnya dikelola secara open access agar semua orang bisa membacanya cuma-cuma. Karena ini pilihan, tentu penulis juga bisa memilih yang bebas ongkos.

Dalam rilis terbaru 7 April 2022, dari 2500-an jurnal yang dikelola Elsevier, yang 3 di antaranya disebutkan Yayu, hanya 640 jurnal yang mewajibkan open access, yang artinya penulis wajib membayar APC. Jadi, masih ada 1800-an jurnal bereputasi yang bisa bebas ongkos. Belum lagi kalau menelusuri Taylor Francis atau Sage, yang juga mengelola banyak jurnal bersistem hybrid (istilah untuk jurnal yang memberikan kesempatan penulis memilih open access atau no publication fee).

Para penerbit besar ini juga memberikan potongan biaya open access bagi penulis dari negara berkembang. Lain halnya, jika penulis memilih untuk mempublikasikan melalui MDPI (Multidisciplinary Digital Publishing Institute), yang memang secara tegas memproklamasikan jurnal-jurnalnya sebagai open access, jadi pasti tidak gratis.

Dengan begitu banyaknya pilihan terbit gratis, masih perlukah sokongan pemerintah untuk penerbitan publikasi ilmiah? Alih-alih untuk membayar APC, dana sebaiknya dialokasikan untuk membiayai riset, sehingga bisa dilaksanakan dengan metodologi yang valid. Termasuk, alokasi untuk memoles bahasa, sebab selain ketidakvalidan metodologi, bahasa Inggris amburadul adalah alasan berikutnya yang membuat publikasi ditolak.

Kekurangan publikasi ilmiah yang tidak open access hanya terletak pada tertutupnya akses bagi ilmuwan lain yang membutuhkan, lalu membuat publikasi tidak dibaca dan dirujuk, sehingga membuat H-indeksnya rendah. Namun, ilmuwan yang cerdik memiliki cara untuk memperoleh akses, seperti mengontak penulisnya langsung atau melalui komunitas researchgate. Cara ini saya lakukan ketika membutuhkan akses, termasuk untuk membagikan publikasi saya kepada mereka yang memintanya.

 

Tulisan asli:

Balada Dosen dan Publikasi Ilmiah milik Yayu Nidaul Fithriyyah

Dosen dalam Balada Publikasi Ilmiah? milik Fitria Rahmawati

Menyiasati Publikasi Ilmiah milik Christina Eviutami Mediastika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *