8 Cara Menghindari Plagiarisme dari Guru Besar Unesa

Mahasiswa UT, 8 Cara Menghindari Plagiarisme dari Guru Besar UNESA – Meski kemajuan teknologi memudahkan siapapun untuk berkarya, berinovasi lebih kreatif, kenyataannya tetap saja fenomena plagiarisme muncul.

Plagiarisme atau penjiplakan masih terjadi di tengah masyarakat, tidak hanya dalam industri musik, sastra, maupun industri kreatif lainnya. Namun, juga terjadi di lembaga pendidikan.

Tradisi copy paste terus meningkat dan jadi jalan pintas kala deadline tiba. Tindakan semacam ini sepertinya sudah lumrah terjadi.

Terkait plagiarisme, Guru Besar dan Kepala Pusat HKI dan Sertifikasi Produk Inovasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Tukiran, turut berkomentar. Menurutnya, para penjiplak kerap bersembunyi di balik kata ‘inspirasi’ yang menjadikannya seakan bebas meniru dan menjiplak karya orang lain.

“Menjadikan karya orang sebagai inspirasi itu hal wajar. Namun yang jadi masalah ketika benar-benar meniru karya orang lain yang membuat kita terinspirasi itu dan mengaku sebagai karya sendiri, Ini jelas salah. Kita bebas berkarya, tetapi jangan sampai benar-benar meniru. Apalagi menjadikan karya orang lain atas nama sendiri, itu jelas plagiarisme,” tegasnya, dilansir dari laman Unesa.

Justru, dari karya orang lain itu harus dijadikan sebagai dasar dalam melakukan inovasi atau pengembangan karya yang lebih sehingga berbeda dari karya-karya lain.

“Dalam bidang akademik misalnya, tidak melarang mengambil atau mengutip karya orang lain, tetapi harus menyertakan sumbernya dari mana, buku mana atau riset siapa. Intinya kan kejujuran,” ucapnya.

Plagiarisme mengancam ‘Iklim Inovasi’

Tidak ada batasan yang pasti sejauh mana karya bisa dikatakan orisinal. Namun, kata Prof Tukiran, selama karya yang dilahirkan memiliki orisinalitas atau keunggulan yang tinggi dan berbeda dari karya yang lain, maka itu bukanlah plagiarisme.

Baca juga:   13 Situs Tempat Mencari Referensi Skripsi

Tindakan plagiarisme bisa mengancam kreativitas dan inovasi anak bangsa. Tidak hanya merugikan pemilik karya, tetapi juga merugikan pelaku penjiplak itu sendiri. Maraknya tindakan plagiarisme perlahan ‘membunuh’ iklim inovasi.

Agar terhindar dari plagiarisme atau agar karya tidak dijiplak orang lain, pemilik karya harus segera mendaftarkannya sebagai HKI di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

“Sekarang mendaftarkan HKI itu mudah, khususnya hak cipta, kelar hanya dalam hitungan menit. Bahkan sekarang terus dikembangkan DJKI dalam memberikan layanan pendaftaran online dan lainnya,” paparnya.

Kiat menghindari plagiarisme

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan baik oleh akademisi maupun masyarakat umum untuk mengurangi kemungkinan plagiarisme, yaitu:

  1. Melakukan pengecekan tingkat plagiarism melalui turnitin atau similarity checker lainnya, utamanya karya yang berkutat pada bidang akademik maupun penelitian.
  2. Bagi karya di luar dari karya tulis, dapat pula mengecek langsung melalui website berikut:
    • https://www.dgip.go.id/
    • EPO: https://ep.espacenet.com
    • USPTO: http//www. uspto.gov
    • UK Patent Office: http//gb.espacenet.com
    • IP Australia: http//www.ipaustralia.gov.au
    • WIPO:www.wipo.int/wipogold/en/
    • dan seterusnya.
  3. Hindari langsung publish karya atau ciptaannya di medsos atau media publikasi untuk mengurangi tindakan penjiplakan gambar, tulisan, maupun ide oleh orang lain.
  4. Jika karya telah dijiplak dan didaftarkan, sebelum pemiliknya melakukan pendaftaran di DJKI, maka yang mendaftarkan karya atau ciptaan tersebut akan dapat mengklaim karya tersebut sebagai miliknya.
  5. Segera mendaftarkan karya atau ciptaannya pada DJKI sesuai dengan jenis KI, kategori dan golongannya.
  6. Dalam berkarya, mudahnya gunakan prinsip amati, tiru dan modifikasi (ATM), bukan amati, copy dan paste (ACP).
  7. Pelajari dan pahami tata cara dalam membuat karya atau ciptaan yang sesuai dengan aturan yang ada. Ketidaktahuan akan aturan–aturan yang ada dapat menjerumuskan pada tindakan plagiarisme.
  8. Bangunlah dan biasakan mentalitas anti-plagiarisme dan tingkatkan kreativitas diri dalam mengembangkan karya-karya yang orisinal dan unggul.
Baca juga:   Blended Learning, Trend Strategi Pembelajaran Masa Depan

 

Sumber: Kompas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *